Langsung ke konten utama
Gaya Mahasiswa ITS, Saat Ujian Akhir Menggunakan Fashion Baju Adat Nusantara

UAS, Mahasiswa Perkapalan ITS Wajib Kenakan Busana Adat 

Surabaya - Ada yang unik dari pelaksanaan Ujian Akhir Semester (UAS) di Departemen Teknik Sistem Perkapalan Institut Teknologi Sepuluh Nopember atau ITS Surabaya, Rabu (7/6/2018). Pada ujian mata kuliah Desain 4 bagi mahasiswa semester akhir Teknik Sistem Perkapalan (Siskal), peserta diwajibkan mengenakan busana adat daerah dari seluruh Indonesia. 

M Badrus Zaman, Kepala Departemen Teknik Sistem Perkapalan ITS, menjelaskan, tujuan pertama mewajibkan busana daerah Indonesia adalah melatih mahasiswa menerima keberagaman dan bermental Bhinneka Tunggal Ika.

Kedua, nantinya saat mahasiswa lulus dan terjun secara langsung ke masyarakat diharapkan bisa lebih memahami Indonesia secara utuh dan memahami keberagaman yang ada di masyarakat.

"Negara kita membutuhkan generasi-generasi yang siap menjunjung tinggi Bhinneka Tunggal Ika, sehingga diharapkan pakaian daerah yang mereka kenakan ini mereka lebih mencintai tanah air dan menyumbangkan karya mereka kepada Indonesia," terang Badrus Zaman kepada Suarasurabaya.net.
Kewajiban mengenakan kostum tematik saat ujian ini merupakan tradisi yang sudah lama berjalan di Departemen Teknik Sistem Perkapalan ITS. Dimulai sejak tahun 2003 dan hingga saat ini masih terus dipertahankan.

Bahkan, sebelumnya peserta ujian juga pernah diwajibkan mengenakan kostum superhero untuk memperingati Hari Pahlawan. "Kami sesuaikan untuk tema pakaiannya dan kebetulan kali ini bertepatan dengan momen Hari Lahir Pancasila, dan kami pilih tema kebhinekaan," tambah Badrus.
Badrus menambahkan di Siskal ini terdapat empat mata kuliah bidang desain kapal. Ujian Desain 4 merupakan ujian final bagi para mahasiswa ITS semester akhir di departemen ini.
"Bobot ujian Desain 4 ini sama seperti Tugas Akhir (TA), sehingga diharapkan nanti mahasiswa memahami seluruh sistem yang ada di kapal," kata Badrus.

Membuat Suasana Ujian  Lebih Santai

ilustrasi ujian


Badrus menambahkan, ujian dengan sistem presentasi itu mengujikan sistem pelumasan, sistem perpipaan, sistem kelistrikan, navigasi dan sistem pendingin yang ada di dalam sebuah kapal.
Luarannya adalah mahasiswa dapat mengetahui dan memahami bagaimana merancang sistem dalam sebuah kapal.

Untuk tahun ini, ujian diadakan secara berkelompok atau tim. Sebanyak 80 mahasiswa dibagi menjadi dua, sehingga satu tim terdiri dari dua orang.

"Kalau nanti di dunia kerja, mereka sudah terbiasa dengan team work dan dapat membangun dengan baik, demi suatu tujuan atau target. Ini sangat penting dilaksanakan saat ini," ujar Badrus.
Tiap kelompok menghadap seorang dosen penguji dan mempresentasikan desain sistem perkapalan rancangan mereka. Bagi mahasiswa program Double Degree, harus mempresentasikan rancangannya dalam bahasa Inggris.

Busana adat yang mereka kenakan sangat bervariasi, ada yang mengenakan pakaian adat Betawi, Dayak, Jawa Timur-an, Madura, Makassar, dan bahkan juga ada yang mengenakan Kencongan pakaian adat Yogyakarta yang biasanya dikenakan oleh anak-anak.

Sementara itu, disampaikan Rohmatus Shifa mahasiswi semester enam Siskal mengaku awalnya sedikit kerepotan saat mengenakan busana adat Jawa ini.

Namun, dengan berbalut kebaya modern ungu dan mengenakan bawahan kain serta jilbab yang selaras, ia malah merasa lebih nyaman dengan suasana ujian yang terkesan tidak terlalu formal seperti ini.

"Biasanya kan tegang kalau ujian, tapi dengan berpakaian seperti ini kita bisa lebih menjiwai dan lebih santai," papar Rohmatus Shifa mahasiswi asal Mojokerto.
Begitu pula dengan Unzila, mahasiswi asal Makassar yang mengaku bangga bisa mengenakan busana adat daerahnya sendiri. "Dengan mengenakan busana adat Makassar ini saya bisa menunjukkan keindahan busana daerah saya," pungkas Unzila.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah Batu Sumber Towo Yang Bertuah di Mojokerto Mojokerto - Wilayah Trowulan, Mojokerto yang menjadi pusat Kerajaan Majapahit masih menyimpan banyak misteri. Salah satunya Makam Panjang, dan mata air yang konon mempunyai banyak khasiat. Makam Panjang ini terletak di Dusun Ungah-unggahan, Desa/Kecamatan Trowulan. Situs ini berjarak sekitar 200 meter arah timur laut dari Kolam Segaran. Bangunan Makam Panjang ini cukup sederhana. Hanya berupa pendapa yang dinaungi pohon beringin raksasa. Namun, di dalamnya ada sebuah makam yang ukurannya tak lazim. Foto: Enggran Eko Budianto Berbeda dengan makam pada umumnya, makam yang satu ini berukuran 5x2 meter. Terdapat sebuah batu mirip batu nisan dengan tulisan bahasa Sansekerta. Sementara dua bangunan gapura mini di depan makam merupakan bangunan baru. "Pada batu tersebut terdapat tulisan angka tahun 1012 masehi dan perjalanan hidup manusia," kata Juru Kunci Makam Panjang Sunoto (55) kepada detikcom, Jum...
Kunjungan Pabrik Otsuka SMK Negeri 1 Mojokerto   Saya sebagai salah satu pelajar SMK Negeri 1 Mojokerto,saya mendapatkan pengalaman baru dalam dunia kerja industri.Dalam hal ini saya akan menceritakan Pengalaman saya saat berkunjung ke Pabrik Otsuka di Kota Pasuruan. Saat saya berkunjung pertama kalinya ke Pabrik Otsuka,saat saya masuk ke pabrik saya disambut ramah oleh para pegawai-pegawai pabrik tersebut.Saat masuk saya diarahkan oleh pegawai ke sebuah ruangan.Diruangan tersebut kami diberi presentasi alasan Pabrik Otsuka didirikan.  Dari gambar logo diatas maksud logo tersebut Pabrik Otsuka.lambang O besar logo biru memiliki impian yang ingin diwujudkan yang belambangkan "Langit Biru".Sedangkan lambangO besar logo merah melambangkan semangat dalam meraih impian tersebut. Berikut ini proses produksi Pabrik Otsuka a.       Pembuatan Botol 1.     Injection moulding Gambar 2.1 Injection Mould...

Orang-orang melayani tanpa pamrih

SP-Suharyanto  dijuluki polisi dunia lain, polisi partikelir yang dengan suka rela mengatur lalu lintas di perempatan trowulan sebelum di gusur oleh polisi cepek dia mengalah pindah di daerah Simpang empat Sooko Mojokerto. Berbeda dengan polisi cepek yang biasanya kita lihat di tempat lain. Istilah polisi cepek adalah julukan untuk orang yang mengatur lalu lintas dengan mengharap orang yang lewat memberikan uang ala kadarnya. Polisi beneran biasanya melarang operasi para polisi cepek itu karena dianggap malah mengganggu. Kadang-kadang motifnya bukan membantu mengatur keruwetan lalu lintas tapi semata-mata ingin mencari uang di jalanan. Tak ubahnya dengan apa yang dilakukan para peminta-minta dan pengamen jalanan. Entah apa alasannya polisi tidak melarang kegiatan polisi dunia lain ini. Terbukti sudah hampir sepuluh tahun Suharyanto menjadi polisi partikelir yang mengatur lalu lintas daerah Simpang empat sooko. Mungkin karena ia tidak menerima uang ala pem...